Bulan: Desember 2014

Minyak Masih Di Bearish Channel

Posted on

Monexnews – Pada grafik harian, mulai naiknya indikator MACD dan Stochastic dapat menyediakan tenaga kenaikan bagi minyak. Namun, kenaikan masih bersifat koreksi dan potensi kenaikan mungkin terbatas hingga $58.90. Minyak perlu mencatatkan level penutupan harian yang semakin tinggi setiap harinya untuk melanjutkan momentum kenaikan; dimana kegagalan dapat mengembalikan tekanan penurunan.

Di lain pihak, minyak masih diperdagangkan di dalam bearish channel dan di bawah MA 50-100-200 harian yang dapat isyaratkan masih adanya tekanan penurunan. Namun, minyak perlu mencatatkan level penutupan harian di bawah support $53.55 untuk menambah tekanan penurunan. Kegagalan mengatasi support $53.55 dapat mendorong aksi bargain-hunting pasca tajamnya kejatuhan sejak Juli silam.

Dari sisi fundamental, munculnya aksi short-covering menjelang penutupan tahun 2014 sepertinya coba menstabilkan pergerakan harga minyak. Ini dapat memberikan sentimen positif untuk jangka pendek seiring investor mencermati kondisi supplai dan demand terhadap minyak di pasar dunia.

Musim dingin di berbagai negara sepertinya dapat memberikan harapan akan terjaganya outlook permintaan. Permintaan minyak cenderung meningkat ketika dunia mengalami musim dingin yang jatuh pada periode Desember – Februari.

Namun, investor masih cemas dengan melimpahnya supplai di pasar di saat outlook permintaan energi dunia cukup rapuh dengan merebaknya ancaman perlambatan ekonomi global. Kecemasan diperburuk oleh pernyataan menteri perminyakan Ali al-Naimi bahwa Arab Saudi tidak akan memangkas produksi minyak walaupun negara non-OPEC menurunkan produksinya. Menteri perminyakan Kuwait Ali al-Omair utarakan OPEC tidak akan memangkas produksi dan tidak akan melakukan pertemuan darurat untuk membahas kejatuhan harga minyak. Di lain pihak, menteri perminyakan Uni Emirat Abat mendeska semua negara produsen minyak untuk tidak menaikan output. Ini mungkin dapat menjaga sentimen negatif terhadap minyak.
Outlook minyak masih bearish, dimana minyak dapat alami pelemahan dengan target penurunan $55.00 dan stop-loss $59.00. Minyak WTI mungkin akan diperdagangkan di kisaran $56.70 hingga $58.90 untuk hari ini.

Resistance Level : $58.90, $60.00, $61.65

Support Level     : $56.70, $55.00, $53.55

cp 081289151142
Iklan

Bos ECB Senang dengan Rencana Investasi Uni Eropa

Posted on

Monexnews – Rencana Uni Eropa untuk menggelontorkan investasi 315 miliar Euro disambut baik oleh koleganya di European Central Bank (ECB). Bos ECB, Mario Draghi, menyebut keputusan Uni Eropa sebagai langkah baru menuju reformasi struktural.

Diwawancarai saat akan menggelar pertemuan dengan pejabat tinggi Eropa, Draghi menegaskan bank sentral menyambut baik proposal investasi Eropa. Ia melihat investasi sebesar itu dapat berperan dalam menaikkan kepercayaan di zona Euro, hal yang memang sedang dibutuhkan oleh bank sentral.

Sebelumnya Presiden Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, melontarkan niatnya untuk mengajak perusahaan swasta untuk ambil bagian dalam program perbaikan ekonomi Eropa. Juncker mengajak investor swasta untuk mendanai proyek infrastruktur di seluruh penjuaru kawasan.

“Investasi bisa menjadi solusi karena (efeknya) cepat. Eropa membutuhkan implementasi kebijakan yang cepat, dan kondisi yang mendukung peningkatan return investasi,” ujar Draghi. Apabila hal itu bisa dipenuhi, Kepala ECB yakin pemodal tidak akan ragu menanamkan uangnya untuk biaya infrastruktur.

Pejabat tinggi Uni Eropa saat ini sedang berkumpul untuk membahas rencana investasi dan rinciannya. Pemerintah juga akan memberi dana dukungan sebesar 16 miliar Euro dam tambahan 5 miliar Euro lainnya dari kocek European Investment Bank.

http://www.monexnews.com/world-economy/bos-ecb-senang-dengan-rencana-investasi-uni-eropa.htm

CP 081289151142

Rusia Mungkin Akan Menjual Cadangan Emasnya

Posted on

Monexnews – Kejutan dari Rusia menaikkan suku bunga gagal menghentikan pelemahan ruble. Senjata selanjutnya yang tersedia untuk memperbaiki kehancurkan ekonomi akibat sanksi dan penurunan harga minyak adalah menjual emas. Rusia memiliki sekitar 1,196.5 metrik ton emas, ucap bank sentral bulan lalu. Angkat tersebut sekitar 10% dari cadangan mata uang asingnya, menurut World Gold Council di London. Rusia menambah 150 ton emas tahun ini hingga tanggal 18 November lalu, menurut Gubernur bank sentral Rusia Elvira Nabiullina. Cadangan mata uang Rusia telah anjlok ke level rendah 5 tahun seiring bank sentral menghabiskan lebih dari 80 milyar dollar mencoba untuk menghambat pelemahan ruble. Anjloknya ruble bersama dengan penurunan lebih dari 40% pada harga minyak tahun ini menghabiskan jumlah cadangan mata uang Rusia yang dibutuhkannya pasca sanksi yang diberlakukan setelah pengambilalihan Crimea oleh Presiden Vladimir Putin. Anjloknya harga emas merupakan sinyal ekspektasi trader bahwa Rusia akan menjual cadangan emasnya.

“Rusia berada dalam masa kritis dan mengingat sanksi terhadap mereka dan penurunan tajam pada harga minyak, mereka mungkin akan terpaksa mengeluarkan cadangan emas mereka,” Kevin Mahn, manajer dana pada Hennion & Walsh Asset Management di Parsippany, New Jersey. “Jika hal tersebut terjadi, maka itu akan mendorong harga emas turun.” Cadangan emas Rusia telah mencapai tiga kali lipat sejak tahun 2015, dan setara dengan sekitar 70% dari cadangan emas AS dan Jerman, menurut data World Gold Council…..

http://www.monexnews.com/gold-updates/rusia-mungkin-akan-menjual-cadangan-emasnya.htm

Gelar Pertemuan Rutin, BI Tidak akan Ubah Suku Bunga

Posted on

Monexnews – Bank Indonesia (BI) akan menggelar rapat rutinnya pada hari Kamis besok (11/12). Analis dan pakar ekonomi melihat tidak ada peluang kenaikan suku bunga karena BI sudah menggunakan fasilitas ini pada pertemuan darurat bulan lalu.

BI akan mengevaluasi perkembangan ekonomi terkini dan efektivitas kebijakannya pada hari Kamis esok. Agus Martowardojo dan kolega diyakini tidak akan mengubah suku bunga karena baru saja menaikkannya pada rapat 18 November 2014. Menurut Ekonom DBS, Gundy Cahyadi, tekanan inflasi pasca kenaikan harga BBM akan bersifat sementara sehingga BI belum perlu memperketat kebijakannya lebih lanjut. Sebanyak 9 dari 10 responden yang disurvei oleh Wall Street Journal memperkirakan bank sentral tidak mengeluarkan putusan apapun dalam pertemuan besok. Adapun potensi perubahan suku bunga baru terbuka lebar di tahun depan, menyusul normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Seperti diketahui, BI dalam rapat istimewanya pertengahan November lalu memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin ke level 7,75%. Kebijakan bank sentral itu mengakhiri periode suku bunga tetap yang sudah berlangsung selama 13 bulan.

“Kenaikan suku bunga diambil untuk menjaga ekspektasi inflasi di tengah pengaruh kenaikan bahan bakar minyak (BBM) subsidi,” kata Gubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo, kala itu. BI memang merespon cepat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang mencapai 30%, masing-masing untuk jenis premium sebesar Rp 2.000 per liter (dari Rp6.500 menjadi Rp8.500) dan jenis solar dengan kenaikan sebesar Rp2.000 per liter (dari Rp4.500 menjadi Rp6.500).

BI memperkirakan kenaikan harga BBM subsidi tersebut akan membuat upaya pencapaian inflasi 4,5% (2014) dan 4,5% (2015) jadi meleset. Agar target inflasi tetap terjaga, bank sentral terpaksa menaikkan BI rate. Selain menaikkan suku bunga, BI menaikkan suku bunga Lending Facility sebesar 50 basis poin menjadi 8%. Sedangkan untuk suku bunga Deposit Facility tetap di level 5,75%.

http://www.monexnews.com/world-economy/gelar-pertemuan-rutin-bi-tidak-akan-ubah-suku-bunga.htm

CP : 081289151142 / 52559CC6

Pemerintah RI Optimis Perekonomian Bisa Tumbuh 8%

Posted on Updated on

Monexnews – Pemerintah Indonesia optimis mampu mencapai rapor pertumbuhan ekonomi di atas 8% sesuai cita-cita presiden Joko Widodo. Namun pencapaian target tersebut kemungkinan baru bisa terpenuhi dalam dua tahun terakhir masa jabatan kabinet kerja di 2018 dan 2019 mendatang.

Menurut Menko Perekonomian, Sofyan Djalil, pemerintah fokus untuk memenuhi target pertumbuhan ekonomi rata-rata sebesar 7% per tahun. “Kami ingin kalau level 7% dicapai setiap tahun, namun untuk tahun 2015 kondisinya belum memungkinkan,” ujarnya hari ini. Sofyan mengaku tantangan terbesar dari perekonomian domestik justru berasal dari luar negeri, di mana kondisi ekonomi dunia sedang tidak kondusif.

Pada 2016 nanti, perekonomian bisa diupayakan tumbuh 7% tetapi setelah itu kenaikannya harus lebih tinggi guna menutup laju ekonomi yang hanya sebesar 5% pada saat ini. Selain perlambatan ekonomi China, kendala yang tidak kalah besar datang dari penurunan harga batubara dan minyak kelapa sawit. Tren penurunan harga di kedua komoditas itu mengurangi pemasukan dari sektor ekspor.

Sejak era demokrasi berlangsung sejak akhir 1990-an, Indonesia belum pernah mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6,5% per tahun (2011). Rencana pembangunan ekonomi sekarang terpusat pada sektor infrastruktur, manufaktur dan investasi asing.

Awal pekan ini Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2015 mendatang di level 5,2%. Namun demikian, Bank Dunia menilai estimasi pertumbuhan yang kecil untuk tahun depan dapat berbalik arah apabila arus investasi meningkat di atas harapan, terutama di sektor riil. Terlebih lagi konsumsi pasar domestik juga masih kuat sehingga mampu mendukung upaya pertumbuhan.

CP : 081289151142 / 52559CC6

Episode 10 : Pasar Futures vs Pasar Saham – Rabu, 10 Desember 2014, 09.40 WIB

Posted on Updated on

Saksikan Talkshow Edukasi :
“Belajar Trading 101 Bersama Monex” 

Episode 10 : Pasar Futures vs Pasar Saham​

​(Materi Edukasi hub contact person dibawah)

Hari/Tgl : Rabu, ​10​ Desember​ 2014

Waktu : 09.40 WIB
Stasiun Televisi : Metro TV
Nara Sumber :  Johannes Ginting, CSA – Head of Education​

Belajar Trading 101 adalah pengenalan & sosialisasi mengenai Bursa Berjangka kepada masyarakat secara luas, edukasi dan tips-tips bertransaksi di Bursa Berjangka.

Keterangan lebih lanjut hubungi :  Iyan Sauri
 
Monex Cabang Thamrin : HP 081289151142, BBM 52559CC6
 

Menkeu: Asumsi Harga Minyak dan Kurs Rupiah akan Direvisi dalam APBN 2015

Posted on

Monexnews – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Bambang Brodjonegoro, hari ini mengatakan dirinya akan berusaha merevisi asumsi harga minyak dunia dalam APBN 2015. Kalau sebelumnya pemerintah mematok minyak dunia di level $105, maka dalam revisi APBN yang baru harga asumsinya akan diubah menjadi $90 per barel.

Kebijakan ini diambil untuk mengimbangi penurunan harga minyak dunia, yang sekarang berkisar di area $70 per barel. Menkeu meyakini kalau harga minyak dunia tidak akan menguat tajam di tahun 2015 sehingga revisi harga diperlukan dalam RAPBN. “Harga baru akan kembali pulih di tahun 2016 mendatang,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Dow Jones Newswires…..http://www.monexnews.com/world-economy/menkeu-asumsi-harga-minyak-dan-kurs-rupiah-akan-direvisi-dalam-apbn-2015.htm

CP : 081289151142